Pengertian
perawat
Perawat adalah seseorang
yang telah lulus pendidikan perawat baik di dalam maupun di luar negeri sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Jadi daripengertian perawat tersebut dapat artikan bahwa seorang dapat
dikatakan sebagai perawat dan mempunyai fungsi dan peran sebagai perawat manakala yang bersangkutan
dapat membuktikan bahwa dirinya telah menyelesaikan pendidikan perawat baik
diluar maupun didalam negeri yang biasanya dibuktikan dengan ijazah atau surat
tanda tamat belajar. Dengan kata lain orang disebut perawat bukan dari keahlian
turun temurun, malainkan dengan melalui jenjang pendidikan perawat.
Sejarah Perkembangan Keperawatan di
Indonesia
Tidak banyak literatur yang mengungkapkan perkembangan keperawatan
di Indonesia. Seperti hal perkembangan keperawatan di dunia pada umumnya,
perkembangan di Indonesia juga di pengaruhi kondisi sosial dan ekonomi yaitu
penjajahan pemerintah kolonial Belanda, Inggris dan Jepang serta situasi
pemerintahan Indonesia setelah Indonesia merdeka. Perkembangan
keperawatan di Indonesia, pada hakikatnya dibedakan atas masa sebelum
kemerdekaan dan masa setelah kemerdekaan.
A.Keperawatan di Masa Kuno
Masyarakat Indonesia di masa kuno beranggapan bahwa penyakit itu
disebabkan oleh perbuatan makhluk halus yang jahat. Kepercayaan ini begitu
mengakar pada masyarakat, sehingga ketika ada yang sakit maka mereka akan pergi
ke dukun untuk mendapatkan pengobatan. Pengobatan yang dilakukan yaitu dengan
menggunakan mantra-mantra dan bahan-bahan tertentu yang tidak terbukti
khasiatnya. Dari segi keperawatan, orang yang sakit hanya dirawat oleh kaum
wanita yang berlandaskan kepada naluri keibuan (mother instinc). Tidak
ada catatan yang menyebutkan kaum pria ikut serta melakukan perawatan dengan
alasan kaum pria tidak mempunyai kasih sayang yang cukup untuk merawat orang
sakit. Pada masa kuno ini, tidak ada catatan sejarah yang menyebutkan
perkembangan yang berarti dalam bidang keperawatan.
B. Keperawatan di Masa Penjajahan
Di masa penjajahan, perkembangan keperawatan di Indonesia
mengalami kemajuan. Perkembangan keperawatan banyak dipengaruhi oleh
konsep-konsep keperawatan dari Negeri Belanda. Hal ini tidak terlepas dari
peranan pemerintah Belanda yang mendirikan dinas kesehatan khusus tentara (saat
itu disebut MGD) dan dinas kesehatan rakyat (saat itu disebut BGD). Melalui
kedua dinas tersebut pemerintah Belanda merekrut perawat dari penduduk pribumi.
Perawat yang dalam bahasa Belanda disebut Velpleeger menjalankan
tugasnya sebagai perawat dengan dibantu oleh penjaga orang sakit yang disebutZieken
Opposer. Tugas penjaga orang sakit meliputi kegiatan domestik, seperti
membersihkan bangsal dan memasak, mengontrol pasien, mencegah agar pasien tidak
melarikan diri, dan menjaga pasien yang mengalami gangguan jiwa. Perawat pada
masa ini bukan merupakan suatu pekerjaan yang bersifat sukarela atau yang
memilki kemampuan intelektual, melainkan dianggap sebagai pekerjaan yang hanya
pantas dilakukan oleh individu yang memiliki derajat sosial rendah, sedangkan
tugas pelayanan kesehatan sendiri dilakukan oleh seorang dokter bedah dan
pelayanan ini hanya diberikan kepada awak kapal, pegawai, dan orang-orang Belanda.
Para perawat dan penjaga orang sakit ini difasilitasi untuk
membentuk organisasi profesi. Organisasi profesi perawat pertama dibentuk di
Surabaya pada tahun 1799, organisasi tersebut bernama Perkoempoelan
Zieken Velpleeger / Velpleester Boemi Poetra (disingkat PZVB
Boemi Poetra). Para perawat ini bekerja di Binnen Hospital di
Surabaya untuk merawat staf dan tentara Belanda.
Untuk meningkatkan kemampuan para perawat ini agar dapat
memberikan pelayanan keperawatan yang profesional, maka para perawat ini
melalui organisasinya diberikan semacam pendidikan dan pelatihan oleh
pemerintah Belanda. Ilmu keperawatan pada masa Belanda disebutVerpleegkunde.
Sejak saat itu banyak sekali istilah-istilah keperawatan Indonesia yang
mengadopsi bahasa Belanda. Sampai sekarang masih sering kita dengar istilah
Belanda tersebut, misalnya nierbeken (bengkok), laken (sprei), bovenlaken(kain
penutup), warm-water zak (buli-buli hangat), Iiskap (buli-buli
dingin),scheren (gunting/cukur), dan lain-lain.
Usaha lain dari pemerintah kolonial Belanda di bidang
kesehatan pada masa ini antara lain : membentuk Dinas Kesehatan Tentara yang
dalam bahasa Belanda disebut Militiary Gezondherdes Diesnt dan
Dinas Kesehatan Rakyat atau Burgerlijke Gezondherds Diesnt. Pendirian
rumah sakit ini termasuk usaha Daendels mendirikan rumah sakit di Jakarta, Semarang dan Surabaya,
ternyata tidak diikuti perkembangan profesi keperwatan yang berarti karena
tujuannya semata-mata untuk kepentingan tentara Belanda.
Berbeda dengan ketika VOC berkuasa, Gubernur Jendral Inggris
Raffles (1812-1816) sangat memperhatikan kesehatan rakyat. Berangkat dari
semboyannya Kesehatan adalah milik manusia ia melakukan berbagai upaya
memperbaiki derajat kesehatan penduduk pribumi. Antara lain mengadakan
pencacaran umum, membenahi cara perawatan pasien dengan gangguan jiwa serta
memperhatikan kesehatan dan perawatan para tahanan.
Setelah pemerintah kolonial Belanda kembali ke tangan Belanda,
usaha-usaha peningkatan kesehatan penduduk mengalami kemajuan. Di Jakarta,
tahun 1819 didirikan beberapa rumah sakit. Salah satu diantaranya adalah Rumah
Sakit Stadverband berlokasi di Glodok-Jakarta Barat. Pada tahun 1919 rumah
sakit ini dipindahkan di Salemba dan sekarang bernama Rumah Sakit Cipto
Mangkusumo (RSCM). Saat ini RSCM menjadi rumah sakit pusat rujukan nasional dan
pendidikan nasional. Dalam kurun waktu ini (1816-1942), berdiri pula beberapa
rumah sakit swasta miliki misionaris katolik dan zending protestan. Misalnya :
RS Persatuan Gereja Indonesia (PGI) Cikini-Jakarta Pusat, RS St.Carolus
Selemba-Jakarta Pusat, RS St. Bromeus di Bandung dan RS Elizabeth di Semarang.
Bersamaan dengan berdirinya rumah sakit di atas, didirikan sekolah perawat. RS
PGI Cikini tahun 1906 menyelenggarakan pendidikan juru perawat tahun 1912.
Ketika kekuasaan beralih ke masa Pemerintahan Jepang (1942-1945),
keperawatan Indonesia mengalami masa kegelapan. Bila renaisance berakibat
buruk pada perkembangan keperawatan di Inggris sehingga disebut zaman
kegelapan dunia keperawatan di Inggris, maka penjajahan Jepang merupakan zaman
kegelapan dunia keperawatan di Indonesia. Pekerjaan perawat yang pada masa
Belanda dan Inggris sudah dikerjakan oleh perawat yang telah dididik, maka pada
masa Jepang tugas perawat dilakukan oleh mereka yang tidak dididik untuk
menjadi perawat. Demikian pula pimpinan rumah sakit yang sebelumnya orang-orang
Belanda kemudian di ambil alih oleh orang-orang Jepang. Wabah penyakit
menyebar di mana-mana, jumlah orang sakit meningkat, sementara bahan-bahan yang
dibutuhkan seperti balutan dan obat-obatan dalam kondisi kekurangan.Bahkan,
daun pisang dan pelepah pisang digunakan sebagai bahan balutan.
Pendidikan keperawatan yang dilakukan oleh pemerintah Belanda
terhenti. Banyak perawat yang berhenti bekerja sebagai perawat dikarenakan
ketakutan dan kecemasan. Selanjutnya
tidak ada catatan perkembangan sampai akhirnya Indonesia mendapatkan
kemerdekaan.
C. Keperawatan Indonesia Setelah Kemerdekaan
Sejarah perkembangan keperawatan Indonesia setelah kemerdekaan
adalah sebagai berikut:
1. Pembangunan dibidang
kesehatan dimulai tahun 1949.
2. Sebelum tahun 1950:
Indonesia belum mempunyai konsep dasar tentang keperawatan.
3. Tahun 1950: Indonesia
mendirikan pendidikan perawat yaitu Sekolah Penata Rawat (SPR).
4. Pada tahun 1952, sekolah
perawat mulai didirikan. Yaitu sekolah guru perawat dan sekolah perawat
setingkat SMP.
5. Pendidikan keperawatan
profesional mulai didirikan pada tahun 1962 dengan didirikanya Akademi
Keperawatan milik Departemen Kesehatan di Jakarta untuk menghasilakan perawat
profesional pemula. Hampir bersamaan dengan ini didirikan pula Akper Depkes di
Ujung Pandang, Bandung dan Palembang.
6. Tahun 1945 – 1955:
Berdirinya beberapa organisasi profesi, diantaranya yaitu Persatuan Djuru Rawat
dan Bidan Indonesia (PDBI), Serikat Buruh Kesehatan, Persatuan Djuru Kesehatan
Indonesia (PDKI), Persatuan Pegawai Dalam Kesehatan.
7. Tahun 1962: Berdirinya
Akademi Keperawatan (Akper).
8. Tahun 1955 - 1974:
Organisasi profesi keperawatan mengalami perubahan yaitu Ikatan Perawat
Indonesia, Ikatan Bidan Indonesia, Ikatan Guru Perawat Indonesia, Korps Perawat
Indonesia, Majelis Permusyawaratan Perawat Indonesia Sementara (MAPPIS), dan
Federasi Tenaga Keperawatan.
9. Tahun 1974: Rapat Kerja
Nasional tentang Pendidikan Tenaga Perawat Tingkat Dasar yaitu berdirinya
Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) yang mengganti Sekolah Penata Rawat
(SPR).
10. Tahun 1974: Berdirinya Persatuan Perawat
Nasional Indonesia (PPNI).
11. Tahun 1876: Pendidikan Keperawatan di
Indonesia yang semula menyatu dengan pelayanan di rumah sakit, telah mulai
memisahkan diri (terpisah) dari rumah sakit.
12. Pada Januari 1983: Dilaksanakannya Lokakarya
Nasional Keperawatan I yang menghasilkan: a) Peranan Independen dan
Interdependen yang lebih terintegrasi dalam pelayanan kesehatan; b) Program
gelar dalam pendidikan keperawatan; c) Pengakuan terhadap keperawatan sebagai
suatu profesi yang mempunyai identitas profesional berotonomi, berkeahlian,
mempunyai hak untuk mengawasi praktek keperawatan dan pendidikan
keperawatan.
13. Tahun 1985: Berdiri Pendidikan Keperawatan
Setingkat Sarjana (S1 Keperawatan) yang pertama yaitu Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia yang menjadi momentum terbaik kebangkitan Profesi
Keperawatan di Indonesia.
14. Jumlah Akper terus bertambah sampai
berjumlah 227 buah di bulan desember 1996.
15. Tahun 1999: Berdiri Pendidikan
Keperawatan Pasca Sarjana (S2 Keperawatan).
16. Tahun 2000: Keluarnya Lisensi Praktek
Keperawatan berupa Peraturan Menteri Kesehatan.
Pengobatan
Modern & Pengobatan Tradisional
Di dalam suatu ilmu kesehatan untuk menyembuhkan suatu penyakit ada dua macam pengobatan, yaitu pengobatan modern dan pengobatan tradisional. Pengobatan-pengobatan ini sangat berbeda satu sama lain.
Pengobatan modern adalah pengobatan yang dilakukan dengan cara-cara modern/ilmiah atau telah diuji cobakan dengan sebuah penelitian dan dapat dipertanggungjawabkan.
Namun, dari cara pembuatan, obat modern memiliki sedikit keunggulan karena dibuat dengan mesin dan pada umumnya dilakukan secara terukur dan melalui proses percobaan yang terkontrol. Dengan demikian, sterilisasi atau faktor kebersihan obat modern jauh lebih terjaga. Obat-obatan modern juga dibuat dengan menambahkan beberapa zat kimia sehingga bukan mustahil akan ada efek samping setelah mengkonsumsinya obat jenis ini. Pengobatan modern relatif lebih mahal karena bahan baku obat–obatannya sangat mahal dan harganya sangat tergantung pada banyak komponen.
Obat Tradisional adalah obat yang dibuat dari tumbuhan yang diolah dengan cara yang sangat sederhana dan membutuhkan tenaga manusia yang sangat besar.
Keunggulan yang diperoleh dalam menggunakan ramuan tradisional, yaitu pada umumnya, harga ramuan tradisional lebih murah jika dibandingkan dengan obat–obatan buatan pabrik, bahan ramuan tradisional sangat mudah didapatkan di sekitar lingkungan, bahkan dapat ditanam sendiri untuk persediaan keluarga, pengolahan ramuannya juga tidak rumit, sehingga dapat dibuat di dapur sendiri tanpa memerlukan peralatan khusus dan biaya yang besar.
Penggunaan ramuan tradisional memiliki efek samping negatif yang sangat kecil jika dibandingkan dengan obat–obatan medis modern. Hal ini dikarenakan, bahan baku ramuan tradisional sangat alami atau tidak bersifat sintetik. Meskipun demikian, obat herbal yang baru tetap harus melewati uji klinis yang sama dengan obat-obatan sintetik. Selama mengikuti takaran yang dianjurkan, proses pembuatannya higienis, dan cara penyimpanan yang baik, maka efek samping negatif ramuan tradisional ini tidak perlu dikhawatirkan.
Hubunganan di antara pengobatan alternatif dengan pengobatan modern bukanlah hubungan yang bersaing. Pengobatan kedua-duannya hidup saling berdampingan dan bersama-sama menyediakan pilihan pengobatan untuk bermacam-macam penyakit. Dalam bidang alternatif ada sifat yang bisa menyediakan bidang medikal dan sebaliknya. Jadi untuk pemilihan obat yang baik pilihlah obat yang berkhasiat seperti obat Tradisional tapi tetap terjaga mutu dan kebersihannya seperti obat Modern.
Di dalam suatu ilmu kesehatan untuk menyembuhkan suatu penyakit ada dua macam pengobatan, yaitu pengobatan modern dan pengobatan tradisional. Pengobatan-pengobatan ini sangat berbeda satu sama lain.
Pengobatan modern adalah pengobatan yang dilakukan dengan cara-cara modern/ilmiah atau telah diuji cobakan dengan sebuah penelitian dan dapat dipertanggungjawabkan.
Namun, dari cara pembuatan, obat modern memiliki sedikit keunggulan karena dibuat dengan mesin dan pada umumnya dilakukan secara terukur dan melalui proses percobaan yang terkontrol. Dengan demikian, sterilisasi atau faktor kebersihan obat modern jauh lebih terjaga. Obat-obatan modern juga dibuat dengan menambahkan beberapa zat kimia sehingga bukan mustahil akan ada efek samping setelah mengkonsumsinya obat jenis ini. Pengobatan modern relatif lebih mahal karena bahan baku obat–obatannya sangat mahal dan harganya sangat tergantung pada banyak komponen.
Obat Tradisional adalah obat yang dibuat dari tumbuhan yang diolah dengan cara yang sangat sederhana dan membutuhkan tenaga manusia yang sangat besar.
Keunggulan yang diperoleh dalam menggunakan ramuan tradisional, yaitu pada umumnya, harga ramuan tradisional lebih murah jika dibandingkan dengan obat–obatan buatan pabrik, bahan ramuan tradisional sangat mudah didapatkan di sekitar lingkungan, bahkan dapat ditanam sendiri untuk persediaan keluarga, pengolahan ramuannya juga tidak rumit, sehingga dapat dibuat di dapur sendiri tanpa memerlukan peralatan khusus dan biaya yang besar.
Penggunaan ramuan tradisional memiliki efek samping negatif yang sangat kecil jika dibandingkan dengan obat–obatan medis modern. Hal ini dikarenakan, bahan baku ramuan tradisional sangat alami atau tidak bersifat sintetik. Meskipun demikian, obat herbal yang baru tetap harus melewati uji klinis yang sama dengan obat-obatan sintetik. Selama mengikuti takaran yang dianjurkan, proses pembuatannya higienis, dan cara penyimpanan yang baik, maka efek samping negatif ramuan tradisional ini tidak perlu dikhawatirkan.
Hubunganan di antara pengobatan alternatif dengan pengobatan modern bukanlah hubungan yang bersaing. Pengobatan kedua-duannya hidup saling berdampingan dan bersama-sama menyediakan pilihan pengobatan untuk bermacam-macam penyakit. Dalam bidang alternatif ada sifat yang bisa menyediakan bidang medikal dan sebaliknya. Jadi untuk pemilihan obat yang baik pilihlah obat yang berkhasiat seperti obat Tradisional tapi tetap terjaga mutu dan kebersihannya seperti obat Modern.
Penyakit ini datang
mendadak, dan tanpa pandang bulu apapun agama anda. Penyakit ini sulit
dideteksi oleh dokter yang tidak memahami spiritualitas.
Anda pernah mendengar ilmu hitam yang dapat mengirim santet, pelet, teluh, guna – guna dan sihir?. Penyakit ini berasal dari virus setan. Tentu saja kebanyakan setan membawa dan menularkannya atas suruhan dari manusia.Walau demikian Allah pasti mengetahui setiap niatan hati dan perbuatan manusia.
Penyakit – penyakit tersebut disebut “penyakit mistis”. Banyak orang beranggapan penyakit ini adalah penyakit ghaib, karena dapat dirasakan tetapi tidak dapat dinyatakan dalam bentuk diagnosa ilmu kedokteran. Saya tidak sependapat dengan sebutan ghaib karena ghaib mengandung pengertian tidak terlihat. Penyakit mistis apapun jenis penyakit entah santet, sihir atau teluh sebenarnya dapat dibuktikan secara nyata dan dapat dilihat, bahkan dapat dilogika oleh akal maupun hati.
Anda pernah mendengar ilmu hitam yang dapat mengirim santet, pelet, teluh, guna – guna dan sihir?. Penyakit ini berasal dari virus setan. Tentu saja kebanyakan setan membawa dan menularkannya atas suruhan dari manusia.Walau demikian Allah pasti mengetahui setiap niatan hati dan perbuatan manusia.
Penyakit – penyakit tersebut disebut “penyakit mistis”. Banyak orang beranggapan penyakit ini adalah penyakit ghaib, karena dapat dirasakan tetapi tidak dapat dinyatakan dalam bentuk diagnosa ilmu kedokteran. Saya tidak sependapat dengan sebutan ghaib karena ghaib mengandung pengertian tidak terlihat. Penyakit mistis apapun jenis penyakit entah santet, sihir atau teluh sebenarnya dapat dibuktikan secara nyata dan dapat dilihat, bahkan dapat dilogika oleh akal maupun hati.
Ciri – ciri penyakit non
medis :
Hampir semua penyakit sebab sihir, santet, guna – guna dan teluh gejala awal hampir sama. Beberapa gejala umumnya antara lain:
Hampir semua penyakit sebab sihir, santet, guna – guna dan teluh gejala awal hampir sama. Beberapa gejala umumnya antara lain:
1.
Penyakit
ini awalnya menyerang psikis. Orang ini mengalami gelisah, galau, sedih yang
tiada sebabnya disertai dengan rasa hawa panas.
2.
Setelah
psikis lemah maka tubuh rentan terhadap penyakit. Pada serangan fisik
orang ini mengalami sakit yang terlihat medis namun setelah diperiksa oleh
dokter sulit dinyatakan.
3.
Jikapun
ternyata penyakit dapat diagnosa medis diobati dengan medical umum maka
biasanya penyakit tersebut tetap tidak sembuh.
4.
Biasanya
penyakit datang tiba – tiba, hilang tiba – tiba juga tapi datang lagi dalam
bentuk penyakit yang berbeda.
5.
Tabiat
atau kebiasaan orang yang terserang penyakit ini biasanya berubah. Jadi
sensitif, temperamental, tertutup, dan tidak suka keramaian, suka
menyendiri, tidak mau disiplin minum obat, malas berobat, dan malas bertanya.
Seseorang penderita
penyakit mistis, sepintas penyakitnya terlihat medis namun kenyataannya
sulit diobati ( tidak sembuh – sembuh ). Pada kebanyakan orang, penderita
penyakit mistis ini lama mendapat kesembuhan, walau ia telah berobat ke
berbagai dokter, paranormal, ahli ruqyah, dan lain – lain.Tujuan “penyakit”
ini membuat penderita patah semangat dan putus asa.
Cara bekerja penyakit
mistis :
Kesatu; menyerang dalam pikiran bawah sadar. Pada
orang yang diserang akan mengalami daya hayal dan angan – angan tinggi, dan
frekuensi hayal hampir di setiap waktu senggang. Lama – kelamaan seseorang akan
selalu meluangkan waktu untuk berangan – angan.
Kedua; pada seseorang yang terkena gangguan penyakit
ini, ia akan mudah tersinggung dan tidak suka humor.
Ketiga; pada tahap berikutnya seseorang ini akan
mengalami rasa malas, lesu dan tidak semangat, baik semangat bekerja maupun
semangat hidup, malas pula bergaul sungguh pun ia bukan tipikal penyendiri, ia
senang menyendiri.
Keempat; jika mendengar ayat – ayat suci ia tidak suka.
Kelima; seseorang yang terserang penyakit ini biasanya
enggan untuk mengetahui perubahan pada sifat dan sikap dirinya.
Keenam; selalu muncul pikiran – pikiran negatif. Baik
kepada orang di sekelilingnya maupun kepada dirinya sendiri. Lama – kelamaan ia
akan selalu timbul pertanyaan dalam hatinya, dalam pikirannya dan pada tahap
ini seseorang akan mengalami error mental. Ia kerap
menciptakan “kawan” bicara dalam pikirannya. Apapun aktifitasnya selalu ia
berbicara pada diri sendiri walau soal sepele. Ia akan merasa enjoy dengan
“sang kawan pikiran” maka pada tahapan ini tubuh akan mengalami penurunan
kekuatan. Ketika ini terjadi maka virus setan yang telah mengintai diri
seseorang akan mudah masuk. Mereka siap memasuki area tubuh fisik. Maka
terjadilah migrasi setan, jin jahat dalam sistem kekebalan tubuh seseorang.
Setan bersama virus ganasnya akan mencari susunan organ tubuh seseorang yang
rentan terhadap penyakit. Ketika seseorang sakit maka terlihat sepintas sakit
medis
